SIRIH BELANDA DARI SAHABAT
POSTED ON Kamis, 08 Maret 2012 AT 06.36.00 \\

Dia mengamati daun-daun sirih belanda yang menjulur memenuhi taman
kecil di belakang rumahnya. Daunnya yang menghijau dengan semburat
kuning di beberapa tempat sangat segar dipandang mata. Dia sungguh tak
menyangka tumbuhan itu akan bertahan hidup.
Beberapa waktu yang lalu, tumbuhan itu tertimbun bahan bangunan.
Tidak sekedar satu atau dua buah batu bata, tetapi setumpuk beton
bongkaran bangunan. Ya, ia harus merenovasi rumahnya. Akibatnya,
beberapa tanaman kesayangannya harus dikorbankan, termasuk sirih belanda
yang kala itu masih baru saja ditanamnya. Dia merasa sayang sebenarnya.
Sirih belanda memang tanaman yang tidak mahal. Dia bisa saja membelinya
lagi. Namun, yang satu ini berbeda. Sirih belanda itu hadiah dari
sobatnya sendiri.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ia sudah melupakan
kesedihannya kehilangan tanaman dari sahabatnya. Namun, di suatu pagi
yang cerah ia melihat keajaiban yang tak berani diharapkannya: sepucuk
kecil sirih belanda muncul dari sisa-sisa bahan bangunan. Betapa
terkejutnya ia. Sirih belanda itu ternyata tidak mati! Berikutnya,
pucuk-pucuk kecil yang lain bermunculan dari balik sisa bahan bangunan
itu. Sampai hari ini sirih belanda itu malah memenuhi taman kecil di
belang rumahnya dan naik merambati tembok-tembok belakang rumahnya.
Sirih belanda itu memberi nuansa hijau yang segar dengan semburat
kuningnya yang cantik di taman.
Dia menghela napas. Sangat dalam. Sirih belanda pemberian sahabatnya
itu bertahan di bawah tekanan sisa bahan bangunan. Namun,
persahabatannya tidak.
Dia teringat ketika masa suram itu datang menimpanya. Ia
diberhentikan dengan semena-mena. Tidak hanya itu saja, ia juga dituduh
dengan tuduhan bermacam-macam: koruptor, pencuri, penghasut, dan lain
sebagainya. Semuanya itu karena ia tidak mau ikut-ikutan bermain kotor
di kantornya. Ganjarannya adalah pengucilan sampai dengan pemecatannya.
Saat itu adalah saat yang sangat gelap buatnya. Namun, yang lebih
membuatnya terkejut adalah ketika mendapati kenyataan bahwa orang-orang
yang dianggapnya sahabat ternyata tidak seperti yang diduganya.
Sahabatnya itu, ikut juga melempar batu kepadanya, ketika ia sedang
jatuh terpuruk.
Ia merenung mengingat kembali saat-saat itu. Persahabatan itu
ternyata palsu. Ketika harus memilih antara persahataban dengan jabatan,
orang ternyata lebih memilih jabatan. Sahabatnya itu harus ikut-ikutan
melempar batu kepadanya, bila masih sayang dengan jabatannya.
Kenyataan di depannya itu telak menampar kepercayaannya selama ini.
Selama ini ia yakin, tidak mungkin hal-hal duniawi mengalahkan
nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan. Ternyata, ia keliru. Bila
disuruh memilih, orang ternyata lebih suka pada pilihan pragmatis.
Ia kecewa.
Sekarang, bila sedang sendirian di taman belakangnya itu, mau tak mau
ia teringat kembali semuanya. Ia sudah kehilangan semuanya. Namun,
rimbun sirih belanda di sana seolah membisikkan sesuatu yang lain. Ia
tak boleh kehilangan semangat untuk berjuang. Seperti sirih belanda
kecil yang tertimbun bahan bangunan tapi tetap berjuang untuk terus
tumbuh, ia juga akan terus berjuang.
Sirih belanda itu sekarang tidak lagi membuatnya menangisi
sahabatnya. Sebaliknya, tumbuhan itu memberinya semangat baru. Semangat
untuk terus melanjutkan hidup dan bertumbuh.
Jauh di lubuk hatinya, ia berterima kasih pada mantan sahabatnya.
Sirih belanda pemberian sahabatnya itu telah memberinya setitik embun
inspirasi kehidupan.
Label: Best Friends
SIRIH BELANDA DARI SAHABAT
POSTED ON Kamis, 08 Maret 2012 AT 06.36.00 \\

Dia mengamati daun-daun sirih belanda yang menjulur memenuhi taman
kecil di belakang rumahnya. Daunnya yang menghijau dengan semburat
kuning di beberapa tempat sangat segar dipandang mata. Dia sungguh tak
menyangka tumbuhan itu akan bertahan hidup.
Beberapa waktu yang lalu, tumbuhan itu tertimbun bahan bangunan.
Tidak sekedar satu atau dua buah batu bata, tetapi setumpuk beton
bongkaran bangunan. Ya, ia harus merenovasi rumahnya. Akibatnya,
beberapa tanaman kesayangannya harus dikorbankan, termasuk sirih belanda
yang kala itu masih baru saja ditanamnya. Dia merasa sayang sebenarnya.
Sirih belanda memang tanaman yang tidak mahal. Dia bisa saja membelinya
lagi. Namun, yang satu ini berbeda. Sirih belanda itu hadiah dari
sobatnya sendiri.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ia sudah melupakan
kesedihannya kehilangan tanaman dari sahabatnya. Namun, di suatu pagi
yang cerah ia melihat keajaiban yang tak berani diharapkannya: sepucuk
kecil sirih belanda muncul dari sisa-sisa bahan bangunan. Betapa
terkejutnya ia. Sirih belanda itu ternyata tidak mati! Berikutnya,
pucuk-pucuk kecil yang lain bermunculan dari balik sisa bahan bangunan
itu. Sampai hari ini sirih belanda itu malah memenuhi taman kecil di
belang rumahnya dan naik merambati tembok-tembok belakang rumahnya.
Sirih belanda itu memberi nuansa hijau yang segar dengan semburat
kuningnya yang cantik di taman.
Dia menghela napas. Sangat dalam. Sirih belanda pemberian sahabatnya
itu bertahan di bawah tekanan sisa bahan bangunan. Namun,
persahabatannya tidak.
Dia teringat ketika masa suram itu datang menimpanya. Ia
diberhentikan dengan semena-mena. Tidak hanya itu saja, ia juga dituduh
dengan tuduhan bermacam-macam: koruptor, pencuri, penghasut, dan lain
sebagainya. Semuanya itu karena ia tidak mau ikut-ikutan bermain kotor
di kantornya. Ganjarannya adalah pengucilan sampai dengan pemecatannya.
Saat itu adalah saat yang sangat gelap buatnya. Namun, yang lebih
membuatnya terkejut adalah ketika mendapati kenyataan bahwa orang-orang
yang dianggapnya sahabat ternyata tidak seperti yang diduganya.
Sahabatnya itu, ikut juga melempar batu kepadanya, ketika ia sedang
jatuh terpuruk.
Ia merenung mengingat kembali saat-saat itu. Persahabatan itu
ternyata palsu. Ketika harus memilih antara persahataban dengan jabatan,
orang ternyata lebih memilih jabatan. Sahabatnya itu harus ikut-ikutan
melempar batu kepadanya, bila masih sayang dengan jabatannya.
Kenyataan di depannya itu telak menampar kepercayaannya selama ini.
Selama ini ia yakin, tidak mungkin hal-hal duniawi mengalahkan
nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan. Ternyata, ia keliru. Bila
disuruh memilih, orang ternyata lebih suka pada pilihan pragmatis.
Ia kecewa.
Sekarang, bila sedang sendirian di taman belakangnya itu, mau tak mau
ia teringat kembali semuanya. Ia sudah kehilangan semuanya. Namun,
rimbun sirih belanda di sana seolah membisikkan sesuatu yang lain. Ia
tak boleh kehilangan semangat untuk berjuang. Seperti sirih belanda
kecil yang tertimbun bahan bangunan tapi tetap berjuang untuk terus
tumbuh, ia juga akan terus berjuang.
Sirih belanda itu sekarang tidak lagi membuatnya menangisi
sahabatnya. Sebaliknya, tumbuhan itu memberinya semangat baru. Semangat
untuk terus melanjutkan hidup dan bertumbuh.
Jauh di lubuk hatinya, ia berterima kasih pada mantan sahabatnya.
Sirih belanda pemberian sahabatnya itu telah memberinya setitik embun
inspirasi kehidupan.
Label: Best Friends
rainy martini

A derp who likes french-kissing her flute and massaging le piano. I kid, I kid. But I
am a musician... still a student though. I am addicted to melon milk, coffee, Zooey Deschanel, reading about cryptology and horror and gory manga. I like taking photos every fucking time.
Favorite color is brown, the color of earth and chocolates. Books are my best friends. The only time they betrayed me was when I thought an author was female then it turns out to be, aloha, male. Enclosed spaces are cozy; I'm weird like that. And oh, I have a tiny puppy named Sushi who rolls on its back every time I refuse to put down its milk bowl.
You can visit my:
tumblr \
twitter \
facebook \
blogskins
YOUR PROFILE HERE. HEY BTW, DON'T REMOVE MY CREDITS!!! FUUUUUUUU!
affiliates
monthly archives